The Falling Princess

The Most Extraordinary Things

A Drabble, A Day #3 (Granakumala) March 28, 2010

Filed under: continuous stories — utiuts @ 00:36
Tags: ,

“Kumala, ayo nak, nanti ikannya dingin.”

“Iya, Pak,” sahut Kumala.

Kumala yang baru saja tiba di gubuk selepas dari pantai bergegas menuju sumber suara Bapak, walaupun pria yang dipanggilnya Bapak itu bukanlah ayah kandungnya. Kumala bahkan sama sekali tidak kenal dengan dia sebelumnya.

Namanya Pandawa. Biasa dipanggil Dawa. Umurnya mungkin di atas 50 tahun, tapi masih produktif sebagai nelayan. Dia tidak memiliki anak maupun istri. Tidak pernah ada yang tahu alasannya. Sekitar satu bulan yang lalu Kumala datang kepadanya dalam keadaan tunawisma dan kelaparan. Kumala juga tidak pernah tahu apa alasan Bapak menolongnya. Satu hal yang pasti hanyalah dia menampungya, dan sebagai ganti Kumala membantu urusan rumah tangganya. Walaupun itu hanya sekadar bersih-bersih dan menjemur ikan asin di pantai.

Kumala cukup beruntung Bapak tidak banyak bertanya mengenai asal-usul dan masa lalunya. Kumala sendiri juga meyakinkan bahwa dia sendiri tidak berniat jahat. Sejak saat itu, bila ditanya dia hanya menjawab Kumala memanggilnya Bapak. Bagi Kumala, dia memang seorang Bapak.

“Kok, melamun?” tanya Bapak sambil menggigit ikan asin.

“Oh, tidak kenapa-kenapa,” jawab Kumala dan melanjutkan makan.

“Main layang-layang lagi, ya?”

Kumala menjawab dengan anggukan dan seulas senyuman kecil. Bapak menghela napas.

“Kamu, mbok ya, jangan kebanyak main. Sudah dewasa… Kasihan nanti bayi kamu,” sebut Bapak dengan logat Jawa medok yang entah mengapa selalu terdengar merdu di telinga Kumala. Kumala hanya mengangguk.

“Ya sudah. Malam ini kamu istirahat saja. Biar Bapak yang beres-beres. Kalau sudah selesai makan langsung tidur, ya?”

“Iya, Pak.”

Dan itulah yang dilakukan Kumala. Dia berjalan dan berniat ke tempat tidur ketika sebuah cermin panjang dan besar mencuri perhatiannya. Kumala melangkah ke salah satu sisi cermin dan bersandar, menatap sisi cermin lainnya.

Rumah itu sebenarnya bukan gubuk. Terlalu bagus untuk dipanggil sebuah gubuk. Rumah itu adalah rumah terindah yang pernah dilihat oleh Kumala. Terbuat dari jerami dan ditata dengan sedemikian rupa. Sekali melihat, tampaklah rumah itu lebih menonjol dibanding rumah-rumah lainnya. Padahal sama-sama terbuat dari jerami.

Dari hasil percakapan sehari-harinya dengan warga sekitar, Kumala mengetahui bahwa Bapak dulu adalah seorang arsitek. Entah karena alasan apa dia memutuskan untuk tinggal di tepi pantai dan menjadi seorang nelayan. Kumala rasa rumah kecil itu adalah sebuah perwujudan dari sebagian mimpi Bapak. Sebuah rumah yang sederhana dalam ukuran, namun besar dalam makna.

“Kok, melamun? Ayo, tidur!”

Kumala melayangkan pandangan dari cermin ke arah Bapak yang berdiri di ambang tirai (pengganti pintu di seisi rumah, kecuali pintu depan dan belakang). Sepertinya sudah beberapa menit Kumala bersandar di sana. Dia mengangguk dan menyusup ke bawah selimut.

“Kumala tidur dulu, ya, Pak,” ujarnya.

“Yang lelap, nak,” sahut Bapak dari ruang tengah.

Bersambung.

DO NOT TAKE THIS OUT. TIDAK UNTUK DISALIN KE MEDIA LAIN.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.