The Falling Princess

The Most Extraordinary Things

A Drabble, A Day #4 (Granakumala) March 29, 2010

Filed under: continuous stories — utiuts @ 06:23
Tags: ,

Malam itu pesisir pantai tampak tenang tak seperti biasanya. Angin bertiup pelan, membawa ombak menyentuh pasir, memecah karang. Langit hitam legam bertaburkan bintang. Mencercah segaris tipis cahaya di sepanjang cakrawala.

————–

“Mbak Mala, Mbak Mala! Main layangan, yuk!” seru sekumpulan anak-anak. Kumala mengangkat topinya dan tersenyum ramah ke arah mereka.

“Nanti, ya, kalau ikannya sudah kering. Kalian duluan saja, biar Mbak menyusul,” jawab Kumala. Kumala menatap kepergian anak-anak itu dengan perasaan meluap. Dalam hati kecilnya, mungkin dia ingin kembali ke masa kanak-kanak lagi.

Teringat akan janjinya untuk bermain layang-layang, segera setelah ikannya kering, Kumala menyatukannya dengan ikan-ikan yang lain. Kemudian dia menghampiri seorang wanita paruh baya yang sedang memilah-milah ikan.

“Bu Ati, tugas saya udah selesai. Ada lagi yang bisa saya bantu?” tanya Kumala.

“Sudah, tidak perlu. Toh, sebentar lagi juga semuanya selesai. Lagipula kasihan anak-anak dibiarkan menunggu,” jawab Bu Ati dengan senyum penuh arti.

“Kalau begitu saya duluan ya, Bu.”

“Eh, sebentar. Ini upah kamu,” ujar Bu Ati sembari memberikan tujuh lembar seribuan pada Kumala. Tanpa mampu berkata-kata, Kumala menganggukkan kepala, tersenyum, dan segera berlari.

Kumala tiba di salah satu tepi pantai yang sepi dari anak-anak. Di sana dia mendekati seorang penjual layang-layang. Penjual itu sedang menatap pantai dan menoleh ketika Kumala datang.

“Halo, Neng. Beli layang-layang lagi?” tanyanya ramah.

“Iya. Yang biasa, Pak.”

“Nih, warna kesukaan Neng,” kata penjual itu dan memberikan sebuah layang-layang putih bergaris tengah ungu pada Kumala. Layang-layang itu berbentuk kotak dan biasa-biasa saja. Tetapi Kumala menyukainya. Diapun membayarnya.

“Terima kasih, Pak.”

Si penjual layang-layang tersenyum menatap punggung Kumala yang semakin lama semakin menjauh. Tak berapa lama kemudian Kumala sudah bergabung dengan anak-anak yang sedang bermain-main. Terlihat sebuah layangan putih bergabung dengan layang-layang lainnya, membentuk warna dan warni di angkasa biru. Dan tak terasa biru itu berubah menjadi oranye. Senja telah tiba.

Nduk, pulang, Nduk! Sudah sore!” teriak seorang ibu dari kejauhan.

Bocah yang merasa dipanggil, menarik layangannya dan bergegas pulang. Tak lupa berpamitan pada teman-temannya dan Kumala.

“Kumala, terima kasih ya, sudah jaga anak saya,” seru ibu itu lagi. Kumala melambai sebagai jawaban. Kemudian satu-persatu pun anak-anak itu pulang. Tinggal Kumala sendiri bermain layangan.

Layang-layang itu terombang-ambing ditiup angin. Kiri, kanan. Kanan, kiri. Kiri, kanan. Tapi tak pernah terlalu jauh karena kendali masih dipegang Kumala. Akhirnya dia mengambil sebuah gunting dari tas rotannya dan memotong tali layangan itu. Sekarang arah layang-layang tersebut menjadi jelas. Dia terbang ke kanan dan terus menjauh hingga akhirnya menghilang dari pandangan.

Bersambung.

DO NOT TAKE THIS OUT. TIDAK UNTUK DISALIN KE MEDIA LAIN.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.