Malam itu Kumala kembali bersandar di sisi cermin. Memandang kamarnya yang terefleksi di dalam cermin tersebut. Kamar itu minimalis. Satu tempat tidur kayu, satu lemari biasa, satu meja tulis, satu jendela. Dan satu cermin istimewa, pikir Kumala.
Cermin itu memang indah. Besarnya hampir memenuhi sepanjang tembok. Bingkainya penuh dengan ukiran-ukiran klasik dan anggun a la Jawa. Namun bagi Kumala, cermin itu mempunyai arti lebih dan mengundang berjuta tanda tanya. Sekali lagi Kumala mempertanyakan.
“Kumala, sudah tidur belum?” tanya Bapak dari luar.
Kumala tersadar dan terburu-buru menyelinap ke balik selimut. Ketika Bapak menyibak kecil tirai, dia berpura-pura tidur.
“Mimpi indah, yo, Nduk.”
Kemudian Bapak keluar untuk menghisap sebatang rokok.
————
Lewat tengah malam, jendela terbanting tiba-tiba. Tirai putih berkibar-kibar, seperti gaun Kumala yang seolah-olah menarik tubuh kurusnya. Dia menyandarkan punggung di cermin, menatap tajam pantai yang terlihat dari jendela di hadapannya. Pantai itu gelap karena malam. Tetapi sinar bulan begitu terang menyilaukan. Kumala mendekatinya. Suara itu terdengar lagi.
Raih dia…
Raih dia…
Raih dia…
Bersambung.



The Not-So Silent Readers