Grana kembali menyandang barang-barangnya dan mengikuti langkah Pak Dawa. Dia baru menyadari bahwa ‘gubuk’ Pak Dawa tidak jauh dari tempatnya masuk tadi. Begitu menginjakkan kaki di dalamnya, Grana berkomentar.
“Mau di kota atau di pantai, tetap saja arsitek sejati.”
Pak Dawa hanya tersenyum mafhum.
Kemudian Grana mendengar sebuah langkah dari tirai putih di sebelah kanannya. Setelah disibak, muncul seorang wanita muda yang memakai gaun sama putihnya. Rambutnya panjang dan hitam legam. Kulitnya coklat, secoklat kulit Grana. Kemudian dia bersuara, “Bapak sudah pulang?”
“Lho? Kumala? Tidak ke pantai?”
“Tidak, Pak. Dari pagi saya merasa agak mual.”
“Yo wiss istirahat. Tapi sebelumnya, kenalkan ini mantan murid Bapak.”
Grana tersenyum dan mengulurkan tangan.
“Gerhana,” katanya,” Panggil saja Grana.”
Kumala menyambutnya dan turut tersenyum.
“Kumaladewi. Cukup Kumala saja.”
“Sudah kenalan, toh?” potong Bapak yang juga tersenyum. Lalu dia menunjuk sebuah kamar kosong yang terletak di ujung. Grana meletakkan barang-barangnya di sana. Begitu keluar dia melihat Kumala lagi yang kali ini mengenakan sebuah topi lebar.
“Katanya sakit?” tanya Bapak.
“Sudah mendingan. Lagipula kasihan Bu Ati, tidak ada yang bantu,” balas Kumala. Bapak mendesah.
“Jangan memaksakan diri, ya? Kalau sudah lelah segera pulang.”
“Iya, Pak, tenang saja. Saya permisi,” lantun Kumala. Ketika tatapannya bertemu dengan Grana mereka hanya saling menukar senyum kecil.
Bersambung.



The Not-So Silent Readers