The Falling Princess

The Most Extraordinary Things

Hari Sendiri Nasional July 22, 2008

Filed under: one-shot stories — utiuts @ 17:41
Tags: , ,

Lagi-lagi hari ini kulalui sendiri. Aku bangun pagi dengan niat ingin menyumbangkan darah bagi saudara-saudara kita yang terkena gempa di Jogjakarta dan Jawa Tengah. Kukenakan kaos merah darah. Aku berharap kamu juga akan hadir.
Aku berangkat sendiri. Sepanjang jalan menatap jalan tanpa ada teman untuk mengobrol. Hanya satu sahabat setia yang menemani: iPod-ku tercinta. Sampai di sana tak lama kemudian. Langsung menuju tenda pendonoran darah. Kulihat sekeliling, kamu tidak ada.
Kuisi formulir yang ada. Kunyatakan aku sudah berumur 17 tahun. Kalau kamu belum, ya? Berarti kamu tidak bisa mendonor. Mungkin karena itu kamu tidak datang. Aku berbaring di tempat tidur yang disediakan. Suster itu bilang akan mengetes tensiku terlebih dahulu. Ternyata tensiku terlalu rendah. Dia bilang mungkin karena kurang tidur. Jadi sebaiknya aku mendonorkan darah lain kali. Aku kecewa sekali. Seandainya kamu tahu seberapa besar rasa kecewaku.
Setelah gagal menyumbang darah, aku menuju mall yang ada di sebelahnya. Kamu pasti tahu bahwa tujuan pertamaku selalu ke toko buku. Maka ke sanalah aku. Tidak ada buku baru. Lagipula uangku juga tidak memungkinkan untuk itu.
Terasa sepi menyusuri gedung besar ini sendiri. Aku masih menunggu kamu. Bahkan ketika berjam-jam aku sedang menunggu warnet langgananku buka. Warung itu terlambat buka selama satu jam. Begitu pintu tidak lagi tertutup, aku langsung masuk. Kuakses friendster dan blog-ku. Kutuliskan semua pengalamanku hari itu. Mulai dari mendonorkan darah hingga berburu buku baru. Tapi tidak kuceritakan mengenai kamu yang tak juga kunjung muncul.
You could be happy and I won’t know…Baru saja kudengar Snow Patrol berkata begitu. Satu jam kemudian aku keluar dari warnet itu. Aku langsung pulang. Karena bosan menunggu kamu yang tidak datang-datang. Diam-diam aku berharap akan menemukanmu di pintu masuk. Siapa tahu kamu terlambat. Tetapi begitu aku sampai di pangkalan angkot, kamu tetap tidak ada.
Aku kesal. Langsung kunaiki angkot abu-abu di hadapanku. Lima belas menit menunggu, supir angkot pun menancapkan gas. Beberapa menit kemudian aku turun di lampu merah. Aku melihat angkot oranye yang seharusnya kunaiki lewat. But I feel like walking today. Jadi aku belok kiri dan berjalan di sepanjang jalan Demang Lebar Daun hingga rumah. Aku melewati masjid, showroom mobil, istana gubernur, restoran mewah, bank raya, toko buku, ruko, dan masih banyak lagi. Aku berjalan karena berharap siapa tahu akan ada sebuah mobil yang berhenti di sampingku dan menawarkan tumpangan. Dan ketika jendelanya turun aku akan melihat kamu yang duduk di kursi supirnya. Namun hingga aku tiba di rumah, tidak ada satu mobilpun yang berhenti untukku. Bahkan angkot yang biasanya mengejar-ngejar penumpang pun tidak.
Aku sedih. Aku ingin menangis. Aku terus memikirkan alasan-alasan apa yang dapat membuatmu tidak datang. Dan kemudian aku sadar. Aku tahu jawabannya. Aku memang tidak pernah berani untuk memintamu datang.

-fap: 4 Juni 2006

 

Pikiran Seorang Pejalan Kaki July 15, 2008

Filed under: one-shot stories — utiuts @ 23:41
Tags:

Hari itu dia berjalan sendirian. Kepenatan di suatu tempat bernama “rumah” mendorong kedua kakinya untuk pergi. Udara dingin bertiup semilir mengalir. Dia menggigil dan merapatkan jaket hitamnya. Dia benci dingin. Tapi lebih baik di sini dari pada di sana. Dia benci berada di rumah. Dia benci kenyataan bahwa dia tinggal di rumah itu.
Kakinya terus berjalan lurus ke depan. Bagaikan seonggok debu di antara pejalan-pejalan kaki lainnya yang sedang berlalu-lalang. Dia tidak digubris. Berjalan meniti hidup di sepanjang trotoar di mana orang-orangnya tidak mengenal satu sama lain. Dari dulu dia selalu menganggap hospitality itu bullshit. Just like everything in this world. All of them are nothing but shit. Semuanya tai. Dan dia tidak memberikan kepercayaan sedikitpun pada seluruh tai itu. Dia hanya percaya satu hal. Ketidakpastian. Dan bagi dia itu agama. Dengan Albert Einstein sebagai nabinya. Orang-orang memanggil dia atheis. Karena telah menuhankan sepatah kata benda yang tak lain dan tak bukan adalah ketidakpastian. Dia tidak peduli. Dia juga tidak merasa malu. Dia bukanlah orang bodoh yang begitu saja percaya dengan postulat-postulat yang ada pada paradigma dunia. Dia telah membuktikan bahwa para ahli yang mengaku ahli memetika sama sampahnya dengan semua sampah busuk yang ada di dunia. Mereka mengaku memahami jalan pikir manusia. Padahal mereka sendiri hanyalah manusia biasa yang jalan pikirnya diatur dan dipengaruhi oleh suatu force tertentu. Dia pun salah satunya. Hanya saja dia merasa beruntung karena mendapatkan force yang bisa diajak kompromi dan bekerjasama dengan dirinya. Pikirannya eksklusif. Hanya Tuhan dan dirinya yang tahu apa yang sedang dia pikirkan. Orang lain hanya bisa menebak-nebak tidak pasti. As if they care.
See? Lagi-lagi dia membuktikan kesimpulan seseorang yang dielu-elukan seluruh dunia sebagai orang terjenius sejagad raya. Tidak baginya. Albert Einstein lebih dari itu. Albert Einstein adalah pemikir paling eksklusif yang pernah ada. Dan apabila Einstein adalah nabi, maka teori-teorinya adalah kitab suci. Dan dua ajaran yang paling dia pegang teguh adalah relativitas dan ketidakpastian. Bahkan Tuhan pun relatif. Maka benarlah Einstein. Satu-satunya yang tidak pasti adalah ketidakpastian.
Kakinya masih berjalan. Berjalan, berjalan, kemudian menyeberang. Tiba-tiba dia melayang. Untuk sekian parsec dia merasakan apa itu terbang. Dia dapat melihat semuanya dari sudut pandang seekor burung. Ternyata sebuah bus terlihat sangat kecil dari atas. Kemudian sensasi itu hilang. Digantikan rasa sakit yang membelah kepala. Darah di mana-mana. Dia merasakan darahnya sendiri. Ah ya… Kematian adalah malaikatnya. Tampaknya Einstein luput menambahkan satu hal lagi. Ada satu lagi yang pasti di dunia ini. Kematian.
Pandangannya mulai kabur. Dia melihat beberapa orang menghampirinya. Sisanya terus berjalan. Yes, the rest just walked on by. Terkejar dan mengejar waktu. Meniti hidup di sepanjang trotoar di mana orang-orangnya tidak mengenal satu sama lain. Kami memang tidak saling mengenal. Tapi kata Einstein semuanya relatif. Mungkin saja sambil berjalan dan mengacuhkan sebenarnya mereka memiliki pikiran yang sama. Kalau begitu kita saudara batin. Insecurity kita sama bukan?
Rasa sakit itu menghilang. Sebaliknya dia merasa amat sangat tenang. Tubuhnya terasa sangat ringan. True bliss. I’m dying. Well, maybe this is for the best.
P.S. Kisah seorang manusia yang mempertanyakan Tuhan.

-f.a.p.: 2006

 

The One I can Count On June 24, 2008

Filed under: short stories — utiuts @ 21:42
Tags: ,

“Lo tuh banci! Gue ga suka cowok banci! Gue benci setengah mati sama cowok banci! Jangan pernah harap gue bakalan nerima elo!”
“Tapi gue udah berusaha! Gue tahu gue bukan cowok yang paling bisa diandalkan. Tapi gue sayang elo!”
“Jangan mimpi! Jangan pernah coba bayangin gue bakalan mau jadian sama cowok plin-plan kayak elo! Ga bakalan! Gue sama sekali ga punya perasaan buat elo! Cuma benci!”
Cukup sudah. Perempuan itu tahu bahwa dia sudah menyakiti si laki-laki sedemikian rupa. Si laki-laki juga sudah tidak bisa menyembunyikan lukanya. Si laki-laki berbalik pergi, merasa ingin menangis. Matanya begitu panas. Begitu juga hatinya.
Perempuan itu kesal bukan main. Berani-beraninya si laki-laki banci itu menyatakan perasaan padanya. Padahal perempuan itu hanya menaruh hati pada sang pria. Seorang pria sejati yang dapat diandalkan setiap saat. Tidak seperti si laki-laki banci.
Si laki-laki banci hanya bisa menyusahkan perempuan itu. Semua pekerjaannya tidak ada yang beres. Menemui jalan buntu langsung putus asa. Laki-laki macam apa itu? Tidak seperti sang pria yang begitu menawan. Sang pria membuat perempuan itu merasa aman. Sang pria tak pernah membuatnya khawatir. Perempuan itu sangat berharap sang pria akan membalas perasaannya.
Permintaannya terkabul. Sang pria mengulurkan tangannya dan membuktikan bahwa dia memang seperti yang selama ini perempuan itu bayangkan. Begitu kuat dan tidak akan membuatnya cemas. Sang pria sangat mandiri dan teratur. Bahkan lebih dari itu. Begitu teraturnya sang pria tidak pernah tahan melihat sesuatu yang berantakan. Perempuan itu terjebak dalam ikatannya.
“Kamu jangan terlalu ngatur-ngatur aku! Kamu kira kamu siapa! Aku bisa urus diri aku sendiri! Aku bukan anak kecil!”
“Tapi kamu bersikap seperti anak kecil! Keras kepala dan impulsif! Manja bukan main! Semua kata-katamu harus dituruti!”
“Apa hak kamu bilang begitu! Memangnya kamu nggak! Aku muak dengan kamu! Aku muak diatur-atur kamu!”
“Itu karena aku bisa mengandalkan diriku sendiri! Tidak seperti kamu yang selalu tergantung pada orang lain!”
Tiba-tiba perempuan itu merindukan seorang laki-laki yang yang pernah dipanggilnya baci. Entah kenapa.

-fap:11 November 2006

 

Tulus June 17, 2008

Filed under: one-shot stories — utiuts @ 19:45
Tags: ,

Aku melangkah mendekati kamu yang sedang berbicara dengan seorang lelaki tua. Sedang apa kamu? Oh, kamu sedang membeli sebuah bakpau. Tiba-tiba aku merasa lapar.
“Beliin satu, dong!” pintaku padamu.
“Ih, ada juga elo yang beliin gue,” balasmu.
Kutarik bibirku hingga mengerucut dan memasang ekspresi cemberut. Kamu hanya tertawa. Kamu tahu aku bercanda.
Tak berapa lama kemudian datang seorang senior yang dari dulu memang aku kagumi. Kamu memanggil si senior yang sangat pintar itu. Kejeniusannyalah yang membuat aku terkagum-kagum pada orang itu.
“Eh, lo tau ga?” tanyamu pada si senior.
“Apa?” Si senior balas bertanya.
“Dia bilang lo ganteng!” jawabmu sambil menujukku. Aku terbelalak mendengarnya.
“A-a-” aku terbata-bata tidak bisa membalas karena malu.
“Dia bilang cuma ada dua orang ganteng di sini, yaitu gue dan elo,” lanjutmu.
“Itu-! Udah, deh, gue pergi,” kataku malu dan meninggalkan tempat kamu dan si senior tertawa. Ah, sial.
Ketika si senior melewatiku, kupasang lagi wajah cemberutku dan orang itu justru mencubit pipiku gemas. Itupun kalau bisa kubilang gemas. Karena cubitannya sakit sekali! Pipiku langsung terasa tebal dan memanas.
“Gila!” kataku padamu. “Dia nyubit sakit banget!”
Kamu bukannya peduli malah mengangkat tangan dan mengambil ancang-ancang untuk mencubit.
“Sini gue tambahin,” katamu.
“Jangaaan!” teriakku dan berlalu lagi dari sana. Huh, kenapa, sih, hari ini kamu mengerjaiku terus?
Malamnya aku dan kamu makan di sebuah warung dekat kampus. Sambil menunggu makanan datang lagi-lagi kamu menggodaku terus. Ya, lucu, sih. Tapi, kan, lama-lama menyebalkan! Huh! Sepertinya seharian ini ekspresi cemberut tidak pernah lepas dari wajahku. Dan tiba-tiba saja kamu mencubit pipiku perlahan. Kamu tersenyum.
“Kenapa, sih, seharian ngerjain gue melulu?” tanyaku kesal.
“Abis lucu,” jawabmu singkat.
“Aaah, MT (Makan Teman) lo!”
“Apa, tuh, MT? Makin Tayang (Makin Sayang)?”
“A-”
Tiba-tiba aku tidak bisa menjawab.
“MT apa?” kejarmu lagi. “Makin Tinta (Makin Cinta)?”
Kali ini aku diam. Tanpa perlu repot-tepot kamu sudah membuatku salah tingkah. Ah, sial. Aku kena lagi.
Makanan habis disantap. Sudah malam. Aku dan kamu beranjak untuk pulang. Di persimpangan jalan kita berpisah.
“Eh, tunggu!” panggilmu. “Cium dulu, dong!”
“Ih, ngarep!” balasku.
Dan kita berpisah dengan meninggalkan senyuman yang menggemaskan.

-fap: 17 Juni 2008

 

Hujan Bisu June 10, 2008

Filed under: one-shot stories — utiuts @ 21:27
Tags: ,

Hey…
Di manakah engkau gerangan … ?
Tiada kabar berita…

Satu jam. Kurang lebih. Aku bersandar di kaca kamar hotel ini. Bintang lima. Lantai tertinggi. Pemandangan terbaik. Sangat tebal kaca itu. Apapun yang terjadi di luar, tidak akan terdengar di dalam. Termasuk suara derasnya hujan di luar sana.
Satu jam. The Adams tak lelah-lelah melantunkan ‘Kau di Sana’. Menanyakan kamu di mana. Seiring dengan hatiku yang gelisah. Sementara teve selalu menyiarkan berita yang tidak mengenakkan. Kumatikan. Aku lebih baik mendengar Ario dan teman-teman. Lebih optimis.
Tapi satu jam. Tidak juga ada kabar. Hujan di luar saja semakin lebat. Namun sosokmu tak kunjung datang. Kuperhatikan langit siang yang menggelap. Beberapa kali kilat menyambar. Hanya saja gemuruhnya tak kunjung kudengar. Kaca ini terlalu tebal. Bisu semua.
Satu jam kuperhatikan kesibukan kota. Mencari-cari kamu ada di mana. Kita sudah menjelajahi tiap sudut bersama. Meredam kebisingannya. Mengenyahkan kepenatannya. Kini malah satu jam sudah kamu lenyap dari pandanganku.menguap dari keseharianku.
Di tengah distorsi gitar The Adams, menyeruak suara baru. Bunyi isak tangisku. Memang aku yang tak mau tahu. Bukan satu jam aku sudah kehilanganmu. Yang benar setahun lebih satu jam. Dan The Adams tak pernah berhenti berlaras sejak saat itu.

Hey…
Di manakah engkau gerangan … ?
Tiada kabar berita…

-fap: 2007

 

Pagi-pagi Buta June 3, 2008

Filed under: one-shot stories — utiuts @ 00:13
Tags: , ,

Jam tua itu berdentang. Dua kali. Malam sudah berubah menjadi pagi. Kuaduk segelas kopi panas yang baru saja diseduh. Aku mencari frekuensi radio manapun yang masih bekerja pada jam-jam ini. Dangdut. Ah, sial. Untung kutemukan satu frekuensi yang tidak terlalu hingar-bingar. Sejenak kudengarkan seorang penyiar menyampaikan berita malam. Suara bass, formal, dan sungguh tidak berintonasi. Tidak mengherankan, mengingat dia sendiri pasti sedang siaran dalam keadaan mengantuk. Kubayangkan dia akan langsung jatuh tertidur di depan mic-nya begitu selesai menunaikan tugas. Ya … lelah.
Kuhampiri jendela kayu kamarku yang terbuka. Kupandangi bulan sabit di atas sana sambil menyeruput kopi hangatku pelan-pelan. Di depanku pohon-pohon hitam tersebar dan melambai perlahan. Mungkin saat malam purnama dari sana akan menyeruak serigala jadi-jadian. Tapi ini malam sabit.
Aku baru sadar langit hampir tidak berbintang. Kunaiki kusen jendela dan duduk di sana. Merasakan sejuknya udara kebun sekaligus menghangatkan diri dengan segelas kopi. Kupandangi kamarku yang berantakan dengan lelah. Kulihat kertas-kertas tugas berserakan di atas meja jati di dekat pintu kamarku. Benar-benar lelah. Aku mulai ragu kopi ini akan kembali menawarkan khasiatnya.
Argh, biarkan aku istirahat. Sekejap kupejamkan mata. Sayup-sayup terdengar suara sang penyiar yang mengundurkan diri. Kemudian mengalun sebuah tembang lama yang cukup mendayu di telinga. Aku tahu lagu itu.
Kutatap bulan sabit di atas sana. Ditemani Naif yang melantunkan ‘Di Mana? Aku di Sini’. Untuk beberapa saat aku berpikir tentang kamu.
Sudah berapa lama hal itu berlalu? Rasanya telah bertahun-tahun. Saat itu kita masih dekat. Sangat. Sekarang semua itu telah menguap entah ke mana dan yang tersisa hanya kenangannya. Dulu kamu tidak akan tidur pada jam ini. Kamu akan terjaga menyaksikan siaran sepak bola dan aku akan menemanimu. Lewat sms tentunya. Sering juga, bila sedang tidak ada yang bisa dikerjakan, kamu akan menemaniku melalui sms-sms yang tak berkesudahan. Hal itu sudah lama sekali.
Lalu mengapa sekarang kita jadi begini? Aku rasa memang waktu dan kedewasaan yang mengubahnya. Pada ujungnya tiap manusia akan menjalani hidupnya sendiri-sendiri. Dan mungkin memang saat itu sudah waktunya kita menjalani hidup masing-masing.
Kuambil ponsel dari kantung celanaku. Kubuka kembali lembaran-lembaran lama yang pernah ada tentang kamu. Pesan-pesanmu masih kusimpan. Meskipun sudah bermasa-masa yang silam. Aku yakin kebiasaan begadangmu belum hilang, layaknya hal itu juga belum lenyap dariku. Kamu di mana? Aku rindu kamu.
Hingga kutatap lagi bulan sabit di atas sana dan berharap kamu sedang menatap bulan yang sama.

-fap: 26 Juni 2007

 

Nameless (2) May 27, 2008

Filed under: continuous stories — utiuts @ 19:39
Tags: , ,

Hari-hari berikutnya.
Endless phone calls. Endless messages. Endless roses.
Semuanya dari kamu. Maaf sekali. Tapi aku sudah memutuskan untuk menghentikan hubungan dengan kamu. Cukup aku merasa muak dengan diriku sendiri. Kamu telah membuatku menjadi tipe perempuan yang aku bersumpah tidak akan pernah kujalani. Perempuan kedua.
Aku memang sayang kamu. Tapi harga diriku masih ada. Dan tampaknya kamu malah makin semangat untuk ‘reconnect’ denganku. Aku mulai kewalahan.
Kamu benar-benar pemaksa. Dan di sinilah aku kalang kabut mencari jalan keluar agar kamu berhenti mendekatiku. Jawaban itu pun datang padaku. Mungkin bisa dicoba.
“Kenapa?” tanya sahabatku saat aku menemuinya.
“Gue mau minta tolong. Lo mau ga pura-pura jadi cowok gue? Paling lama cuma sampai sebulan. Please, I really need your help,” kataku.
Sahabatku tersenyum kecil.
“Am I guessing right that you’re doing this to get rid of him?”
Aku mengangguk.
“Maaf, tapi gue bener-bener ga tahu harus minta tolong sama siapa lagi,” mohonku.
Dia tampak berpikir sejenak.
“Oke. Yang penting kita bersikap kaya’ orang pacaran, ‘kan?”
Aku mengangguk lagi dengan mantap.
“Gampanglah itu,” katanya diiringi senyum nakal.

Kesempatan itu akhirnya datang.
Suatu hari aku dan sahabatku sedang ada di pusat perbelanjaan untuk membeli beberapa keperluan. Ada kamu … dan istrimu. Aku segera menggamit lengan sahabatku. Menyadari apa yang terjadi, diapun melingkarkan lengannya di pinggangku.
Aku dan kamu berpapasan.
God, you should’ve seen yourself. Kamu serasi sekali dengan istrimu. Istrimu begitu cantik, lemah lembut, dan keibuan. Apa yang membuatmu berpikir ingin meninggalkannya?
“Hai! Apa kabar?” sapa istrimu ramah padaku.
“Baik banget! Wah, bentar lagi lahir, nih!” balasku, menilik perutnya yang semakin besar.
“Iya. Isinya cowok, lho,” kata istrimu bangga.
“Sama siapa?” tanyamu tiba-tiba. Hahaa … I knew that look. Kamu cemburu. Though you tried to hide it.
Sahabatku langsung mengulurkan tangannya.
“Saya pacarnya,” katanya.
Kamu menyambut tangannya, dan untuk beberapa saat kamu dan dia berusaha meremukkan tangan masing-masing.
“Oya? Selamat, ya!” kata istrimu. “Kita duluan, ya. Masih banyak yang mau dibeli.”
Istrimu pun berlalu. Kamu membuntutinya dengan perlahan.
“Oh, no, he’s still looking,” bisikku pada sahabatku.
Tiba-tiba sahabatku menciumku. Di bibir. Di tempat umum!
Beberapa detik kemudian dia menarik diri. Aku menatapnya tercengang.
“Hey, I thought he was still looking!” belanya.
Aku tersenyum geli.
“Let’s do it again!” kataku.
Maka kamipun berciuman lagi di tengah sana. Tidak peduli siapa yang melihat, tidak peduli siapa yang tak suka. It was fun!

Selama hari-hari ke depan, aku tidak berpapasan denganmu lagi. Namun untuk berjaga-jaga, aku dan sahabatku tetap meneruskan aksi pura-pura kami. Sehingga bukan hanya kamu yang tertipu, tapi semua orang. Bahkan temanku si supir itu.
“Akhirnya lo jadian yang bener juga. Jomblo seumur hidup, eh, malah jadi simpenan orang. Jejaka ‘kan masih banyak di luar sana,” celoteh temanku itu. Aku jadi merasa tersindir.
Sudah berapa lama sekarang? Seharusnya dalam beberapa hari ini anakmu akan lahir. Apakah kamu masih akan mencintaiku ketika kamu telah menggendongnya?
Dan pada suatu hari yang tidak istimewa, kamu mengirimkanku sebuah pesan singkat.
Hey, my baby is born! He’s so tiny but yet looks so handsome. A lot of people say he looks like me. I guess that just explains the handsome part. I just want you to know that I’m happy and I’m sorry. You’re right. I should’ve seen this coming. Thank you for showing me the errors of my ways. Our few months spent together shall not be forgotten and will be forever treasured. I will always love you. Hope you’ll be happy with him. And yeah, I’m happy.
Sms itu tidak pernah kuhapus. Selesai. Semua selesai. Aku menangis.

”Hey, it’s over. We don’t have to do this anymore.”
“Maksud kamu kita berhenti pura-pura pacaran?”
“Yep. Thanks buat semuanya. Aku hutang budi sama kamu. Maaf banyak merepotkan.”
“Tapi aku punya satu permintaan. Kalau kamu kabulkan, semua hutangmu kuanggap lunas.”
“Name it.”
“Aku mau kita pacaran beneran.”
“ … “
“So?”
“Oke! Let me kiss you!”

-fap: Maret 2007

 

Nameless (1) May 20, 2008

Filed under: continuous stories — utiuts @ 19:59
Tags: , ,

Aku tidak cantik. Setidaknya untuk standar kulit putih dan rambut hitam lurus panjang, maka aku tidak cantik. Wajahku jutek. Kulitku sawo matang. Rambut memang hitam panjang. Tapi dengan ikal-ikal besar yang berantakan. Masih untung aku langsing. Lucunya kebanyakan laki-laki justru bilang aku menarik. Katanya wajah jutekku menantang. Disebutnya kulit coklatku “panas”. Ditambah lagi pembawaanku yang dingin membuat banyak pria penasaran akan sosokku yang sebenarnya. Parahnya rasa penasaran itu kerap kali menjurus ke hal-hal yang “macam-macam”. Tiba-tiba aku merasa lebih dipandang sebagai wanita nakal daripada wanita baik-baik. Maka tolong catat satu hal. Aku bukan wanita nakal.
Aku rasa ini saatnya untuk klarifikasi. Aku memang bukan perempuan nakal, bukan berarti pula teman laki-lakiku sedikit. Air mukaku memang jutek, bukan berarti pula aku memusuhi dunia. I’m just simply a living proof of the saying “don’t judge a book by its cover”. Meskipun begitu ada satu hal yang akan langsung diketahui orang saat mereka melihatku. I’m single.
Di sinilah kamu muncul. Lucu kalau diingat-ingat. Awal cerita kita sudah jadul sekali. Dulu kamu penyiar favoritku. Setiap malam aku tidak akan luput mendengarkanmu. Sampai akhirnya aku berkenalan denganmu. Aku senang bukan main. I’m friends with my hero on the radio! Kamu baik sekali. Sangat ramah dan rendah hati. Sangat tampan dan sangat pintar flirting! Kombinasi sempurna untuk mimpi siang bolong gadis-gadis. Tapi yang membuatku paling bangga, kamu sering flirting padaku. Kamu sering memujiku cantik. Kamu menaikkan kembali rasa percaya diriku saat semua orang mengejar dara putih sedangkan aku tak terpikirkan karena hitam. Aku jadi semakin tergila-gila dengan kamu.
Namun hanya sebatas itu. Aku cukup tahu diri untuk sadar kalau kamu jauh di luar jangkauanku. Saat itu aku masih SMP. Sedangkan kamu hampir dua belas tahun di atasku. Kamu itu murni idolaku. Tidak lebih. Aku senang kita masih bertahan sebagai sahabat.
Kini bertahun-tahun telah berlalu. Aku sudah kuliah. Kamupun sudah menikah. Istrimu cantik. Sangat keibuan. Sedangkan nasibku persis seperti yang kamu ramalkan. Aku menjadi dara incaran banyak pria. Yah, meskipun rata-rata pria kurang ajar.
Satu hal yang pasti. Aku tahu persis cinta macam apa yang aku inginkan. Aku pernah ditolak sahabatku sendiri. Aku juga sudah menyaksikan rumah tangga orang tuaku hancur berantakan di depan mataku. Aku tidak main-main dengan cinta. Mungkin itu yang membuatku masih sendiri. Aku terlalu pemilih.
Tapi kamu tetap ada. Kamu selalu ada. Dan kemudian kamu datang mencariku.
Di suatu hari yang biasa kamu mengajakku makan siang. Kamu ceritakan semua kepenatanmu berumah tangga. Kamu sesali pernikahanmu yang tidak lagi sebergairah dulu. Terutama kini setelah istrimu hamil tiga bulan.
Mau tahu apa pendapatku? Basi. Kamu cuma mengalami kebosanan. Jelas saja istrimu sedang tidak bisa dijamah. Dia sedang hamil! Kamu harus lihat waktu ayahku terbukti selingkuh. Gempa tujuh skala Richter melanda rumahku. Aku tidak percaya kamu bisa mengeluhkan hal sepele seperti ini. Hello, you’re going to have a kid. Aren’t you happy?
Yah, tapi kamu memang manusia biasa. Kadang-kadang pasti bosan. Mungkin itu alasan kamu kembali mengajakku makan siang. Dan kali ini kita lupakan kepenatan hidup masing-masing. Kita makan. Kita ke bioskop. Dan kita tertawa. Persis seperti dulu saat kamu masih idolaku dan aku pemujamu. Ternyata kita menemukan pelepasan dalam diri masing-masing. Ternyata kita ketagihan. Karena itulah kita kembali ber-rendezvouz di makan-makan siang selanjutnya. Lama-kelamaan makan siangpun beralih menjadi makan malam.
Tanpa kusadari semuanya terlambat.
Perlahan-lahan kamu sering menyisipkan “I love you” dalam kalimatmu. Diam-diam kamu tinggalkan buket-buket bunga di depan pintu kosku. Pelan-pelan hubungan ini menjadi semakin serius. Dan tiba-tiba saja aku ingat kamu sudah beristri.
Kurevisi kembali hubungan kita.
Kita menikmati waktu yang kita habiskan bersama. Aku terima semua buket bunga. Aku meresapinya saat kamu mengatakan cinta. Tapi yang membuatku paling senang kamu menghormatiku. Tidak seperti kebanyakan laki-laki yang ingin menyentuhku, paling-paling kamu hanya menggenggam tanganku. Tapi itulah yang aku senangi. Aku merasa aman. Aku tahu kamu mencintaiku apa adanya. Dan aku tahu di matamu aku berharga.
Kamu tahu, suatu hari aku menerima telepon. Istrimu. Gravitasi pun menarikku ke bumi. Dia mencari kamu. Aku bilang tidak tahu. Kami basa-basi sebentar. Aku tanyakan kandungannya. Dia bercerita dengan semangat. Dia terdengar bahagia. Sepertinya dia tidak tahu. Curiga pun tidak. Mungkin karena dia tahu kamu punya banyak teman wanita. Kamu sebenarnya sadar atau tidak, sih, kalau aku dan istrimu berteman baik?
Aku mulai frustrasi. Aku mulai bingung kenapa bisa-bisanya aku terjebak dalam situasi ini. Dulu aku sangat jijik pada ayahku dan wanita simpanannya. Dan aku bersumpah tidak akan menjadi wanita seperti itu. Tapi apa sekarang? Aku jadi wanita simpananmu. KAMU!
Sekonyong-konyong aku tahu ini salah. Sangat salah.
“Istri kamu tahu nggak kita sering ketemu?” tanyaku.
“Aku bertemu dengan banyak orang. Dia cuma tahu kamu salah satunya,” jawabmu.
Aku semakin yakin ini semua salah.
Di tengah kekalutanku, diapun datang. Sahabat yang pernah menolak cintaku. Kami sudah lama tidak bertemu sejak dia belajar di seberang laut. Dia semakin tampan. I felt very excited to meet him again. Overall, dia tidak banyak berubah. Dia masih sahabatku yang dulu. But … God! Not that look again! Sama seperti hidung belang lainnya, dia menatapku dengan tatapan haus-belaian-wanita itu. Tapi dia tetap sahabatku. Dia tetap hangat. Kecuali dengan tambahan sedikit flirting sana-sini pada diriku. Kamupun cemburu.
Cepat atau lambat aku tahu aku harus mengakhiri kegilaan ini. Di tengah perjalanan menuju tempat proyekku, handphone-ku berdering. Kamu. Tidak kuangkat. Bukan karena sedang menyetir, melainkan aku tidak ingin teman-temanku yang berada dalam mobil tahu aku menjalin hubungan dengan pria beristri. Percayalah. Tidak satu manusia pun tahu hubungan kita.
Kubalas teleponmu melalui sms.
Aku sibuk. Besok kita ketemu di tempat biasa. Aku mau ngomong.
Message sent. Delivered.

Tidak dibalas. Kamu malah meneleponku lagi. Kudiamkan. Kamu telepon lagi. Ingin rasanya handphone aku matikan. Tapi sekarang sedang jam bisnis. Aku tidak bisa mematikan handphone in case someone important might call. Kamu belum menyerah. Kamu terus menelepon. Kali ini bunyinya mulai menimbulkan tanda tanya di benak teman-temanku.
“Diangkat, dong!” kata temanku.
Aku jadi serba salah. Kuputuskan untuk mengangkat teleponmu.
Answer? Yes.
“Ada apa, sih?” tanyamu.
“Nggak ada apa-apa,” jawabku sepelan mungkin. Aku tahu seisi mobil sedang mendengarkan. Termasuk dia, sahabatku.
“Jadi kenapa telepon aku ga diangkat-angkat?”
“Udah aku bales lewat sms.”
“Kamu kenapa, sih? Kaya’ ada sesuatu,” tanyamu mulai cemas.
Kutarik napas dalam-dalam sebelum menjawab.
“Semua udah jelas di sms. Aku sibuk. Kita lanjutin besok,” jawabku dingin.
Kamu diam sesaat.
“Oh iya, aku lupa. Kamu lagi ada proyek.”
“Ya. Aku sibuk. Sampai nanti.”
Klik. Kumatikan telepon. Aku mengangkat kepala hanya untuk menemukan teman-teman dekatku memandang penuh tanya.
“Siapa?” tanya temanku yang sedang menyetir.
“Bukan siapa-siapa,” jawabku singkat.
“Kaya’nya penting.”
“Udahlah. Gue lagi ga mau ngomongin ini.”
“Oke.”
Mobil melaju tenang. Kamipun sampai ke tempat yang dituju. Temanku memarkir mobil di sebelah sebuah sedan biru. Mirip mobil kamu. Jangan-jangan…
“Hei, lo ada di sini?”
Shit. Kenapa kamu di sini? I totally forgot that she knew you. Dia memang tidak kenal kamu. Tapi si supir satu ini kenal kamu. Aduuuh, gobloknya selingkuhanmu ini!
“Hai, apa kabar? Lama, ya, nggak ketemu?” sapamu ramah.
“Gue baik. Lo gimana? Denger-denger istri lo lagi hamil, ya? Berapa bulan?”
Mampus aku. Kenapa basa-basi ini berlanjut?
“Jalan enam bulan.”
Hey, I noticed the change of tone. You thought I didn’t hear?
“Eh, ngomong-ngomong lo ngapain ke sini?” tanya temanku tak berhenti.
“Nggak kenapa-kenapa. Gue ada urusan sebentar sama…”
Kamu melirik ke arahku. Temanku menatap sejenak. Aku bisa melihat roda di kepalanya berputar. Aku berusaha bersikap biasa. Tapi aktingku payah. Ya Tuhan, mudah-mudahan mereka tidak sadar. Tiba-tiba saja jantungku berdetak kencang.
“Oke. Kita duluan, ya!”
Dengan sedikit lambaian, teman-temanku melenggang lebih dulu. Tinggal aku dan kamu.
“Ada apa?” tanyamu lagi.
Kugelengkan kepala, tanda kesabaranku sudah mulai habis.
“Can’t we just talk about this tomorrow?” balasku ketus.
“But you sound so … different.”
“Whatever. I’m not having this conversation right here, right now.”

Tanpa pamit kutinggalkan kamu di sana. Entah kenapa aku jadi muak melihat wajahmu. I had enough … Mungkin.
Sekarang coba bayangkan seberapa terkejutnya aku melihat kamu masih berdiri di titik yang sama setelah berjam-jam aku mengerjakan proyek. Dalam seketika aku marah. Sangat marah.
Berlagak tidak tahu, aku berjalan dengan teman-temanku menuju mobil. Berulang kali kuperintahkan pada diriku, tahan … tahan emosi … Either you or him would make a scene today.
“Lho? Kok, lo masih di sini?” tanya temanku, si supir. Kamu tersenyum kecil.
“Gue pinjem dia sebentar, ya? Urusan penting,” katamu. Kamupun menarik tanganku. Kutepis tanganmu. Aku marah.
“Aku sudah bilang kita bicarakan ini besok,” bisikku tajam.
“Nggak bisa. Kalau memang yang mau dibicarakan itu penting, selesaikan sekarang,” balasmu tak kalah tajam.
“Can’t you just wait for a day?”
“No, I can’t.”

Aku memejamkan mata, berharap hal itu dapat meredam emosiku.
“Oke, kalau begitu. Tapi kita tidak bicara di sini.”
“Well, call me an impatient man. But I’ve waited here for hours. I’m not gonna have you run away again!”
Tidak. Sifat impulsifmu kambuh lagi.
“Are you out of your mind? Certainly not here,” desakku sambil melirik ke arah teman-temanku yang masih dalam jarak pendengaran. Kemudian, seperti sadar ketahuan menguping, mereka langsung naik ke atas mobil. Sedangkan kamu masih bersikeras.
“No, sweetie, if you have something to say, then you should say it right now.”
Dasar manusia bodoh. You really had no idea of what I’m capable of.
“I’ve always told you this impulsive side of yours someday is gonna kill you. Kamu paksa aku ngomong sekarang? That’s a mighty big risk you’re taking right now. Kamu tahu kalau semua temanku sedang mendengarkan sekarang. Kamu pikir mentang-mentang mereka lagi nguping aku nggak akan ngomong apa yang mau aku bilang? Salah besar. Kamu lupa aku perempuan paling nekat yang pernah kamu kenal.”
Untuk beberapa detik, semuanya menjadi sunyi. Teman-temanku bengong karena semakin tidak mengerti apa yang aku bicarakan, dan kamu … Kamu mulai menyesal telah memaksa aku untuk bicara. Siap-siap. This’s going to be long.
“Go home. Go back to your wife. Don’t leave your kid. Not when he’s not even born yet. This isn’t right. You have a perfect family. Don’t throw it all away for me. Just don’t.”
Deg! Pelan-pelan hatiku memerih dan terus bertambah perih. Kamu bergerak untuk memelukku. Aku menahanmu.
“No! stop it!” kataku. “Enough! Semuanya selesai. Nggak ada apa-apa lagi. Dari awal semuanya memang sudah salah. Let’s not continue this.”
Kamu mencengkeram tanganku dengan kuat. It started to hurt.
“Please,” katamu, “don’t make me listen to this right now. I’m prepared to leave her for you. I love you.”
Argh .. now you’d done it. Kamu lupa aku benci melihat laki-laki merengek.
“Gila kamu! Laki-laki apaan yang ninggalin istrinya waktu dia lagi hamil! Kamu bukannya buat aku terharu malah buat aku tambah jijik. Get lost! We should never see each other again …”
Dengan sekuat tenaga kutarik kedua tanganku hingga lepas dari cengkeramanmu. Buru-buru aku naik ke mobil sebelum kamu sempat mengatakan apapun.
“Jalan. Cepet jalan.”
Temanku langsung tancap gas dari sana. Aku menunduk dan menutup wajahku dengan kedua tangan. Aku malu. Aku malu pada diriku, teman-temanku, kamu, and The Unseen Above. Kenapa semua jadi begini?
“Lo ga pa-pa?” tanya sahabatku.
Aku diam saja. Pikiranku buntu. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.
“Tadi yang nelpon dia, ya?” tanya si supir. Oh no. her radar was on. It was hard sometime to have a friend who truly cared.
“Bener ‘kan dia yang nelpon?” tanyanya lagi.
Aku masih diam saja.
“Kok, diem aja? Lo sadar ga tadi lo sama dia berantem hebat banget? Kaya’ orang pacaran aja bertengkarnya.”
Tuhan, aku ingin menangis.
Kali ini sahabatku yang buka mulut.
“Lo ga punya affair sama dia, ‘kan?”
Ciitt! Mobil rem mendadak. Kuurut pangkal hidungku. Tiba-tiba saja isi kepalaku berputar.
“Jawab! Bilang kalau itu semua nggak bener! Please, bilang ke gue kalau elo nggak selingkuh sama dia!” Nada bicaranya semakin naik. Tuhan, biarkan aku menangis.
Meneteslah air mata itu satu-persatu. Sahabatku langsung memelukku. Melihat itu temanku sedikit melembutkan intonasinya.
“Ya ampun … Lo kenapa ga pernah cerita sama gue?” kata temanku. “Gue sayang sama lo. Gue pasti bisa bantu lo keluar dari semua ini. Ini ga main-main. Dia udah nikah. Udah mau punya anak! Dan elo? Lo masih kuliah. Masih jauh dari lulus.”
Tangisku semakin menjadi.
“Udah berapa lama ini berjalan?”
“Ti … ti-tiga bulan,” jawabku sesunggukan.
“Astaga … Apa, sih, yang lo liat dari ini semua?”
Kali ini sahabatku yang berinisiatif duluan.
“Udahlah. Sekarang kita anter dia pulang, yuk.”
Mobil pun kembali berjalan. Syukurlah tangisku juga sudah mulai reda. Yang ada sekarang justru hampa.
Di depan rumah kosku, aku kembali melihat sedan biru yang familiar. Kepalaku pusing lagi. Apa, sih, maunya?
Melihat aku tiba, kamu turun dari mobil. Kamu menghampiriku.
“Let’s talk. Kita selesaikan dengan kepala dingin,” katamu pelan.
Aku berpikir sejenak. Sekilas aku bisa melihat temanku menggeleng. Sahabatku masih menggenggam jemariku. Aku mendesah pasrah. Sudah kuputuskan. Tanpa bicara aku naik ke mobilmu. Aku bisa melihat temanku menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya. Kamupun membawaku pergi dari sana. Yeah, you’re right. We did need some quiet moment.
Kemudian tibalah mobil di tempat kita sering menghabiskan waktu berdua. Di sisi sungai yang jauh dari pusat kota. Aku menyiapkan diri untuk commotion selanjutnya. Walaupun tenagaku sudah terkuras karena menangis.
“I still want to end this.” Aku mulai berkata.
Kamu menarik napas. Tapi tidak berkata apa-apa.
“Please, understand,” sambungku. “Kamu jangan gila. Jangan hancurkan perkawinan kamu yang masih seumur jagung itu.”
Kamu menatapku. Dalam.
“Fine,” katamu. “But first tell me you don’t love me.”
Ah, itu gampang.
“I don’t,” kataku. “I consider the last three months as a fling.”
Dan sekonyong-konyong kamu tertawa. Lho?
“Kamu itu bukan pembohong yang baik. Aku tahu itu tadi tidak benar,” sanggahmu.
“Jangan kege-eran kamu,” balasku. “Tahu dari mana aku bohong. Ga ada bukti. Lagian – “
Shit! No! Don’t! Please, don’t kiss me!
Kamu memotong kalimatku dan langsung mencium bibirku. Kamu menekan bibirku kuat. Terus mendorong ke dalam. Dan aku tak kuasa menahan diri. Saat kamu membuka bibirmu, aku turut melakukannya. Lidah kita bertemu. Berpagut dan bercumbu. Lidahku menyapu rongga mulutmu. Akupun sadar aku menikmatinya.
Tidak.
Kutarik diriku. Kupalingkan wajahku. Dengan gusar kutatap pemandangan apapun yang ada di luar sana. Tidak …
Kamu kembali ke posisimu di belakang setir. Untuk beberapa saat tak satupun bersuara.
“Now tell me again you don’t love me,” katamu.
Aku memejamkan mata, merasakan sudutnya mulai menghangat. Tidak. Tidak.
“Take me home,” pintaku. “Please, just take me home.”
Sepanjang perjalanan pulang, aku menolak memalingkan wajahku dari jendela.
Setibanya di tempat kosku, kulihat mobil temanku masih ada di sana. Aku tidak peduli. Aku benar-benar tidak peduli semuanya. Aku hanya perlu masuk ke kamarku secepatnya.
Aku berlari menuju kamarku di lantai dua.
“Tunggu!” seru sahabatku.
Tidak. Tidak. Tidak.
Aku tiba di kamarku. Sesampainya di dalam, lepas semua pertahananku. Bebas. Aku menangis. Kencang. Hebat. Deras. Sederas cintaku yang mengalir untukmu. Aku cinta kamu …

to be continued…

 

TUHAN (Titah belenggU HANtu) May 13, 2008

Filed under: one-shot stories — utiuts @ 17:58
Tags: , ,

“Aku titipkan dia padamu. Aku mohon… Jaga dia baik-baik.”
Terisak perempuan itu meminta padaku. Dirinya tak kuasa menahan derai air mata, dan aku tidak tahu harus berkata apa. Meninggalkan jejak pilu di belakangnya, perempuan itu berlari menjauhiku. Dititipkannya mimpinya yang paling berharga.
Ini sulit. Wahai perempuan, bukannya aku tak menyadari. Dia mencintai aku. Tapi dia juga mencintaimu. Perbedaannya tipis. Dia mencintaimu dengan tulus. Dan dia mencintaiku dengan iba. Aku merasa jadi penghalang.
Aku merasa menang. Tapi apa yang kumenangkan? Kulihat kalian berdua begitu mencintai dan peduli. Siapa sangka ternyata Tuhan yang memisahkan. Padahal konon Tuhan itu Maha Pencinta. Sedihnya aku melihat dua insan yang tak tertakdirkan. Dan tiba-tiba saja aku maju. Merasa bernilai lebih. Semata-mata karena menyembah Tuhan yang sama. Aku semakin tidak mengerti apa yang aku menangkan.
Kamu relakan dia untukku. Kamu tahu aku mencintainya sepenuh hatiku. Namun aku tidak tega melihat embun matamu. Tapi aku tersiksa melihat kepasrahan di wajahnya. Maka aku bertanya-tanya. Cinta macam apa yang dia curahkan padaku sementara dia menginginkanmu?
Tuhan, sebenarnya apa Kamu? Katanya Tuhan itu tunggal. Dengar-dengar Tuhan itu Esa. Kenyataannya Tuhan itu banyak. Realitanya Kamu begitu majemuk dengan pengikut yang juga majemuk. Bohong, bohong, semua bohong! Kamu telah memberiku banyak alasan untuk meragukan-Mu, Tuhan. Benar-benar ragu.
Perempuan, aku mencintainya. Tapi bila hanya menjadi pengganti, akupun tak sudi. Namun apalah dayaku? Saat amanat di dalam genggamku. Dan kita akan lihat bersama. Kiranya berapa lama Tuhanku mempersatukan dan Tuhan kalian memisahkan.

-fap: 16 Februari 2007

 

Publicity Stunt April 22, 2008

Filed under: short stories — utiuts @ 15:24
Tags: , ,

“Kamu yakin ini akan berhasil?” tanya perempuan itu diiringi senyum nakalnya.
“Kamu sendiri yakin tidak? Ini idemu.” Laki-laki tampan berwajah Jawa itu justru bertanya balik. Perempuan manis di hadapannya hanya mengangkat bahu.
“Secara teori, iya. Kamu ingin posisi ini, aku mau posisi itu, dan kita sama-sama memiliki kekurangan popularitas. Seharusnya ini berhasil.”
Laki-laki itu tampak berpikir keras. Si perempuan hanya mengamatinya. Benaknya sudah membayangkan skenario-skenario apa saja yang bisa mereka mainkan. Tak berapa lama kemudian laki-laki itu mengangguk mantap.
“Oke.” Laki-laki itu setuju. Tiba-tiba perempuan itu menghela napas malas.
“Lho? Kenapa?” tanya laki-laki itu lagi.
“Kamu yakin benar-benar mau melakukan ini?” tembak perempuan itu, membuat laki-laki di depannya bingung.
“Kenapa jadi kamu yang ragu-ragu?”
Perempuan itu menatap kedua mata si laki-laki, seolah-olah mencari sesuatu. Kemudian si perempuan menjawab.
“Kita memang ingin terpilih, dan untuk mewujudkan itu kita sudah berpolitik cukup kotor. Apakah kita sudah seputus asa itu sampai harus melakukan ini? Ini hanya akan membuat permainan kita semakin menjijikkan!” jelas perempuan itu dalam menegasikan rencana mereka, meskipun itu idenya sendiri. Secara pribadi, sebetulnya ia tidak setuju.
“Yang aku tahu,” kata laki-laki itu, “politik itu tidak pernah bersih. Yang penting bagaimana tujuan tercapai. Itu saja.”
Si perempuan terdiam lagi. Dia memperhatikan sang laki-laki sembari menimbang. Seharusnya ini tidak merugikan. Laki-laki itu sangat tampan. Semua orang setuju akan hal tersebut, kecuali laki-laki lain yang kebanyakan iri. Bila mereka melakukan ini, pasti orang-orang akan banyak bertanya. Pada sisi tersebut, tentu akan mendongkrak popularitas mereka berdua. Tapi bagaimana jika terjadi sebaliknya? Bagaimana kalau justru muncul orang-orang yang tidak suka dengan si perempuan karena dia dekat dengan si laki-laki? Atau mungkin ‘pasaran’ si laki-laki yang justru turun karena dekat dengan si perempuan. Bisa saja terjadi, bukan? Apalagi si perempuan merasa tidak pantas bersanding dengan si laki-laki yang dalam penilaiannya amat sangat menawan itu. Yah, bisa jadi memang dia kurang percaya diri.
“Jadi kita lakukan ini?” tanya si perempuan, berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
“Kenapa tidak?” tantang laki-laki itu.
“Oke.”
Mereka berjabat tangan.

Awalnya tidak terjadi apa-apa. Lambat laun kabarnya mulai terdengar. Apa betul laki-laki dan perempuan itu menjalin hubungan? Pada situasi normal, hal ini semestinya biasa saja. Tapi ini adalah Fakultas Hukum, tempat sebuah rumor mudah beredar. Apalagi di tengah suasana kampus yang sedang menjelang Pemilu Fakultas. Gosip pun dapat menjelma menjadi hard news.
Calon Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa dari hari ke hari terlihat makin dekat dengan calon anggota Badan Perwakilan Mahasiswa. Agak lucu melihat mereka begtu mesra, sementara kandidat-kandidat lain gencar meneriakkan kampanye mereka. Sang calon Ketua BEM dan calon anggota BPM justru terlihat santai. Kampanye mereka standar saja. Kabar mereka menjalin hubungan telah menyebarkan nama mereka dengan lebih efektif. Banyak orang berpikir tindakan mereka hanya untuk meningkatkan ketenaran. Sentimen negatif itu kerap dilontarkan oleh para oposisi. Namun untuk dibilang pura-pura, si laki-laki dan perempuan itu terlihat sungguh mesra. Rasanya mustahil semua itu tidak benar. Bahkan calon Ketua BEM dan calon anggota BPM itu tidak hanya berpasangan di lingkungan kampus. Di luarpun mereka sering terlihat bersama.
Teman-teman sepantaran akhirnya memberanikan diri untuk bertanya. Laki-laki dan perempuan itu kompak dalam memberikan jawaban, sebuah senyum dan pernyataan ambigu. Mereka mengatakan tidak ada hubungan resmi di antaranya. Namun jelas ada sesuatu di sana.
Akhirnya tiba hari pemungutan suara. Tim sukses masing-masing kandidat semakin ramai menyerukan ajakan. Ayo pilih ini! Ayo pilih itu! Berbondong-bondong mahasiswa mendatangi kotak suara. Sebagian kecil memilih calon-calon yang memang memiliki visi dan misi meyakinkan. Sebagian kecil lainnya memilih dalam rangka distribusi suara yang memang sudah diatur. Sebagai besar sisanya memilih orang-orang yang telah mereka kenal tanpa peduli dengan kompetensinya.
Kumpulan suara dihitung beberapa hari kemudian. Penghitungan disaksikan oleh banyak orang luar. Hasilnya terlihat hari itu juga. Laki-laki itu memenangkan posisi Ketua BEM dengan perbedaan suara tipis dari lawannya. Sedangkan si perempuan medapatkan posisi anggota BPM dengan jumlah suara terbanyak.
Target tercapai.

“Oke. Sampai di sini saja. Terima kasih banyak atas kerja samanya,” kata perempuan itu.
“Tapi…” ucap si laki-laki.
“Kesepakatannya hanya sampai kita terpilih, bukan?” potong si perempuan. Laki-laki itu membisu.
“Kalau begitu cukup semuanya. Kamu jadi Ketua BEM, aku jadi anggota BPM. Terima kasih.”
Dengan kata-katanya, si perempuan mengakhiri percakapan mereka dan berlalu pergi. Laki-laki itu terpaku di tempatnya dan hanya bisa memandang punggung si perempuan yang makin menjauh. Laki-laki itu menadahkan kepalanya di kedua tangannya.
Rasa kehilangan ini tidak dapat dipungkirinya. Dia tidak ingin ini berakhir.

-fap: 28 Maret 2008

 

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.