Aku tidak cantik. Setidaknya untuk standar kulit putih dan rambut hitam lurus panjang, maka aku tidak cantik. Wajahku jutek. Kulitku sawo matang. Rambut memang hitam panjang. Tapi dengan ikal-ikal besar yang berantakan. Masih untung aku langsing. Lucunya kebanyakan laki-laki justru bilang aku menarik. Katanya wajah jutekku menantang. Disebutnya kulit coklatku “panas”. Ditambah lagi pembawaanku yang dingin membuat banyak pria penasaran akan sosokku yang sebenarnya. Parahnya rasa penasaran itu kerap kali menjurus ke hal-hal yang “macam-macam”. Tiba-tiba aku merasa lebih dipandang sebagai wanita nakal daripada wanita baik-baik. Maka tolong catat satu hal. Aku bukan wanita nakal.
Aku rasa ini saatnya untuk klarifikasi. Aku memang bukan perempuan nakal, bukan berarti pula teman laki-lakiku sedikit. Air mukaku memang jutek, bukan berarti pula aku memusuhi dunia. I’m just simply a living proof of the saying “don’t judge a book by its cover”. Meskipun begitu ada satu hal yang akan langsung diketahui orang saat mereka melihatku. I’m single.
Di sinilah kamu muncul. Lucu kalau diingat-ingat. Awal cerita kita sudah jadul sekali. Dulu kamu penyiar favoritku. Setiap malam aku tidak akan luput mendengarkanmu. Sampai akhirnya aku berkenalan denganmu. Aku senang bukan main. I’m friends with my hero on the radio! Kamu baik sekali. Sangat ramah dan rendah hati. Sangat tampan dan sangat pintar flirting! Kombinasi sempurna untuk mimpi siang bolong gadis-gadis. Tapi yang membuatku paling bangga, kamu sering flirting padaku. Kamu sering memujiku cantik. Kamu menaikkan kembali rasa percaya diriku saat semua orang mengejar dara putih sedangkan aku tak terpikirkan karena hitam. Aku jadi semakin tergila-gila dengan kamu.
Namun hanya sebatas itu. Aku cukup tahu diri untuk sadar kalau kamu jauh di luar jangkauanku. Saat itu aku masih SMP. Sedangkan kamu hampir dua belas tahun di atasku. Kamu itu murni idolaku. Tidak lebih. Aku senang kita masih bertahan sebagai sahabat.
Kini bertahun-tahun telah berlalu. Aku sudah kuliah. Kamupun sudah menikah. Istrimu cantik. Sangat keibuan. Sedangkan nasibku persis seperti yang kamu ramalkan. Aku menjadi dara incaran banyak pria. Yah, meskipun rata-rata pria kurang ajar.
Satu hal yang pasti. Aku tahu persis cinta macam apa yang aku inginkan. Aku pernah ditolak sahabatku sendiri. Aku juga sudah menyaksikan rumah tangga orang tuaku hancur berantakan di depan mataku. Aku tidak main-main dengan cinta. Mungkin itu yang membuatku masih sendiri. Aku terlalu pemilih.
Tapi kamu tetap ada. Kamu selalu ada. Dan kemudian kamu datang mencariku.
Di suatu hari yang biasa kamu mengajakku makan siang. Kamu ceritakan semua kepenatanmu berumah tangga. Kamu sesali pernikahanmu yang tidak lagi sebergairah dulu. Terutama kini setelah istrimu hamil tiga bulan.
Mau tahu apa pendapatku? Basi. Kamu cuma mengalami kebosanan. Jelas saja istrimu sedang tidak bisa dijamah. Dia sedang hamil! Kamu harus lihat waktu ayahku terbukti selingkuh. Gempa tujuh skala Richter melanda rumahku. Aku tidak percaya kamu bisa mengeluhkan hal sepele seperti ini. Hello, you’re going to have a kid. Aren’t you happy?
Yah, tapi kamu memang manusia biasa. Kadang-kadang pasti bosan. Mungkin itu alasan kamu kembali mengajakku makan siang. Dan kali ini kita lupakan kepenatan hidup masing-masing. Kita makan. Kita ke bioskop. Dan kita tertawa. Persis seperti dulu saat kamu masih idolaku dan aku pemujamu. Ternyata kita menemukan pelepasan dalam diri masing-masing. Ternyata kita ketagihan. Karena itulah kita kembali ber-rendezvouz di makan-makan siang selanjutnya. Lama-kelamaan makan siangpun beralih menjadi makan malam.
Tanpa kusadari semuanya terlambat.
Perlahan-lahan kamu sering menyisipkan “I love you” dalam kalimatmu. Diam-diam kamu tinggalkan buket-buket bunga di depan pintu kosku. Pelan-pelan hubungan ini menjadi semakin serius. Dan tiba-tiba saja aku ingat kamu sudah beristri.
Kurevisi kembali hubungan kita.
Kita menikmati waktu yang kita habiskan bersama. Aku terima semua buket bunga. Aku meresapinya saat kamu mengatakan cinta. Tapi yang membuatku paling senang kamu menghormatiku. Tidak seperti kebanyakan laki-laki yang ingin menyentuhku, paling-paling kamu hanya menggenggam tanganku. Tapi itulah yang aku senangi. Aku merasa aman. Aku tahu kamu mencintaiku apa adanya. Dan aku tahu di matamu aku berharga.
Kamu tahu, suatu hari aku menerima telepon. Istrimu. Gravitasi pun menarikku ke bumi. Dia mencari kamu. Aku bilang tidak tahu. Kami basa-basi sebentar. Aku tanyakan kandungannya. Dia bercerita dengan semangat. Dia terdengar bahagia. Sepertinya dia tidak tahu. Curiga pun tidak. Mungkin karena dia tahu kamu punya banyak teman wanita. Kamu sebenarnya sadar atau tidak, sih, kalau aku dan istrimu berteman baik?
Aku mulai frustrasi. Aku mulai bingung kenapa bisa-bisanya aku terjebak dalam situasi ini. Dulu aku sangat jijik pada ayahku dan wanita simpanannya. Dan aku bersumpah tidak akan menjadi wanita seperti itu. Tapi apa sekarang? Aku jadi wanita simpananmu. KAMU!
Sekonyong-konyong aku tahu ini salah. Sangat salah.
“Istri kamu tahu nggak kita sering ketemu?” tanyaku.
“Aku bertemu dengan banyak orang. Dia cuma tahu kamu salah satunya,” jawabmu.
Aku semakin yakin ini semua salah.
Di tengah kekalutanku, diapun datang. Sahabat yang pernah menolak cintaku. Kami sudah lama tidak bertemu sejak dia belajar di seberang laut. Dia semakin tampan. I felt very excited to meet him again. Overall, dia tidak banyak berubah. Dia masih sahabatku yang dulu. But … God! Not that look again! Sama seperti hidung belang lainnya, dia menatapku dengan tatapan haus-belaian-wanita itu. Tapi dia tetap sahabatku. Dia tetap hangat. Kecuali dengan tambahan sedikit flirting sana-sini pada diriku. Kamupun cemburu.
Cepat atau lambat aku tahu aku harus mengakhiri kegilaan ini. Di tengah perjalanan menuju tempat proyekku, handphone-ku berdering. Kamu. Tidak kuangkat. Bukan karena sedang menyetir, melainkan aku tidak ingin teman-temanku yang berada dalam mobil tahu aku menjalin hubungan dengan pria beristri. Percayalah. Tidak satu manusia pun tahu hubungan kita.
Kubalas teleponmu melalui sms.
Aku sibuk. Besok kita ketemu di tempat biasa. Aku mau ngomong.
Message sent. Delivered.
Tidak dibalas. Kamu malah meneleponku lagi. Kudiamkan. Kamu telepon lagi. Ingin rasanya handphone aku matikan. Tapi sekarang sedang jam bisnis. Aku tidak bisa mematikan handphone in case someone important might call. Kamu belum menyerah. Kamu terus menelepon. Kali ini bunyinya mulai menimbulkan tanda tanya di benak teman-temanku.
“Diangkat, dong!” kata temanku.
Aku jadi serba salah. Kuputuskan untuk mengangkat teleponmu.
Answer? Yes.
“Ada apa, sih?” tanyamu.
“Nggak ada apa-apa,” jawabku sepelan mungkin. Aku tahu seisi mobil sedang mendengarkan. Termasuk dia, sahabatku.
“Jadi kenapa telepon aku ga diangkat-angkat?”
“Udah aku bales lewat sms.”
“Kamu kenapa, sih? Kaya’ ada sesuatu,” tanyamu mulai cemas.
Kutarik napas dalam-dalam sebelum menjawab.
“Semua udah jelas di sms. Aku sibuk. Kita lanjutin besok,” jawabku dingin.
Kamu diam sesaat.
“Oh iya, aku lupa. Kamu lagi ada proyek.”
“Ya. Aku sibuk. Sampai nanti.”
Klik. Kumatikan telepon. Aku mengangkat kepala hanya untuk menemukan teman-teman dekatku memandang penuh tanya.
“Siapa?” tanya temanku yang sedang menyetir.
“Bukan siapa-siapa,” jawabku singkat.
“Kaya’nya penting.”
“Udahlah. Gue lagi ga mau ngomongin ini.”
“Oke.”
Mobil melaju tenang. Kamipun sampai ke tempat yang dituju. Temanku memarkir mobil di sebelah sebuah sedan biru. Mirip mobil kamu. Jangan-jangan…
“Hei, lo ada di sini?”
Shit. Kenapa kamu di sini? I totally forgot that she knew you. Dia memang tidak kenal kamu. Tapi si supir satu ini kenal kamu. Aduuuh, gobloknya selingkuhanmu ini!
“Hai, apa kabar? Lama, ya, nggak ketemu?” sapamu ramah.
“Gue baik. Lo gimana? Denger-denger istri lo lagi hamil, ya? Berapa bulan?”
Mampus aku. Kenapa basa-basi ini berlanjut?
“Jalan enam bulan.”
Hey, I noticed the change of tone. You thought I didn’t hear?
“Eh, ngomong-ngomong lo ngapain ke sini?” tanya temanku tak berhenti.
“Nggak kenapa-kenapa. Gue ada urusan sebentar sama…”
Kamu melirik ke arahku. Temanku menatap sejenak. Aku bisa melihat roda di kepalanya berputar. Aku berusaha bersikap biasa. Tapi aktingku payah. Ya Tuhan, mudah-mudahan mereka tidak sadar. Tiba-tiba saja jantungku berdetak kencang.
“Oke. Kita duluan, ya!”
Dengan sedikit lambaian, teman-temanku melenggang lebih dulu. Tinggal aku dan kamu.
“Ada apa?” tanyamu lagi.
Kugelengkan kepala, tanda kesabaranku sudah mulai habis.
“Can’t we just talk about this tomorrow?” balasku ketus.
“But you sound so … different.”
“Whatever. I’m not having this conversation right here, right now.”
Tanpa pamit kutinggalkan kamu di sana. Entah kenapa aku jadi muak melihat wajahmu. I had enough … Mungkin.
Sekarang coba bayangkan seberapa terkejutnya aku melihat kamu masih berdiri di titik yang sama setelah berjam-jam aku mengerjakan proyek. Dalam seketika aku marah. Sangat marah.
Berlagak tidak tahu, aku berjalan dengan teman-temanku menuju mobil. Berulang kali kuperintahkan pada diriku, tahan … tahan emosi … Either you or him would make a scene today.
“Lho? Kok, lo masih di sini?” tanya temanku, si supir. Kamu tersenyum kecil.
“Gue pinjem dia sebentar, ya? Urusan penting,” katamu. Kamupun menarik tanganku. Kutepis tanganmu. Aku marah.
“Aku sudah bilang kita bicarakan ini besok,” bisikku tajam.
“Nggak bisa. Kalau memang yang mau dibicarakan itu penting, selesaikan sekarang,” balasmu tak kalah tajam.
“Can’t you just wait for a day?”
“No, I can’t.”
Aku memejamkan mata, berharap hal itu dapat meredam emosiku.
“Oke, kalau begitu. Tapi kita tidak bicara di sini.”
“Well, call me an impatient man. But I’ve waited here for hours. I’m not gonna have you run away again!”
Tidak. Sifat impulsifmu kambuh lagi.
“Are you out of your mind? Certainly not here,” desakku sambil melirik ke arah teman-temanku yang masih dalam jarak pendengaran. Kemudian, seperti sadar ketahuan menguping, mereka langsung naik ke atas mobil. Sedangkan kamu masih bersikeras.
“No, sweetie, if you have something to say, then you should say it right now.”
Dasar manusia bodoh. You really had no idea of what I’m capable of.
“I’ve always told you this impulsive side of yours someday is gonna kill you. Kamu paksa aku ngomong sekarang? That’s a mighty big risk you’re taking right now. Kamu tahu kalau semua temanku sedang mendengarkan sekarang. Kamu pikir mentang-mentang mereka lagi nguping aku nggak akan ngomong apa yang mau aku bilang? Salah besar. Kamu lupa aku perempuan paling nekat yang pernah kamu kenal.”
Untuk beberapa detik, semuanya menjadi sunyi. Teman-temanku bengong karena semakin tidak mengerti apa yang aku bicarakan, dan kamu … Kamu mulai menyesal telah memaksa aku untuk bicara. Siap-siap. This’s going to be long.
“Go home. Go back to your wife. Don’t leave your kid. Not when he’s not even born yet. This isn’t right. You have a perfect family. Don’t throw it all away for me. Just don’t.”
Deg! Pelan-pelan hatiku memerih dan terus bertambah perih. Kamu bergerak untuk memelukku. Aku menahanmu.
“No! stop it!” kataku. “Enough! Semuanya selesai. Nggak ada apa-apa lagi. Dari awal semuanya memang sudah salah. Let’s not continue this.”
Kamu mencengkeram tanganku dengan kuat. It started to hurt.
“Please,” katamu, “don’t make me listen to this right now. I’m prepared to leave her for you. I love you.”
Argh .. now you’d done it. Kamu lupa aku benci melihat laki-laki merengek.
“Gila kamu! Laki-laki apaan yang ninggalin istrinya waktu dia lagi hamil! Kamu bukannya buat aku terharu malah buat aku tambah jijik. Get lost! We should never see each other again …”
Dengan sekuat tenaga kutarik kedua tanganku hingga lepas dari cengkeramanmu. Buru-buru aku naik ke mobil sebelum kamu sempat mengatakan apapun.
“Jalan. Cepet jalan.”
Temanku langsung tancap gas dari sana. Aku menunduk dan menutup wajahku dengan kedua tangan. Aku malu. Aku malu pada diriku, teman-temanku, kamu, and The Unseen Above. Kenapa semua jadi begini?
“Lo ga pa-pa?” tanya sahabatku.
Aku diam saja. Pikiranku buntu. Aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.
“Tadi yang nelpon dia, ya?” tanya si supir. Oh no. her radar was on. It was hard sometime to have a friend who truly cared.
“Bener ‘kan dia yang nelpon?” tanyanya lagi.
Aku masih diam saja.
“Kok, diem aja? Lo sadar ga tadi lo sama dia berantem hebat banget? Kaya’ orang pacaran aja bertengkarnya.”
Tuhan, aku ingin menangis.
Kali ini sahabatku yang buka mulut.
“Lo ga punya affair sama dia, ‘kan?”
Ciitt! Mobil rem mendadak. Kuurut pangkal hidungku. Tiba-tiba saja isi kepalaku berputar.
“Jawab! Bilang kalau itu semua nggak bener! Please, bilang ke gue kalau elo nggak selingkuh sama dia!” Nada bicaranya semakin naik. Tuhan, biarkan aku menangis.
Meneteslah air mata itu satu-persatu. Sahabatku langsung memelukku. Melihat itu temanku sedikit melembutkan intonasinya.
“Ya ampun … Lo kenapa ga pernah cerita sama gue?” kata temanku. “Gue sayang sama lo. Gue pasti bisa bantu lo keluar dari semua ini. Ini ga main-main. Dia udah nikah. Udah mau punya anak! Dan elo? Lo masih kuliah. Masih jauh dari lulus.”
Tangisku semakin menjadi.
“Udah berapa lama ini berjalan?”
“Ti … ti-tiga bulan,” jawabku sesunggukan.
“Astaga … Apa, sih, yang lo liat dari ini semua?”
Kali ini sahabatku yang berinisiatif duluan.
“Udahlah. Sekarang kita anter dia pulang, yuk.”
Mobil pun kembali berjalan. Syukurlah tangisku juga sudah mulai reda. Yang ada sekarang justru hampa.
Di depan rumah kosku, aku kembali melihat sedan biru yang familiar. Kepalaku pusing lagi. Apa, sih, maunya?
Melihat aku tiba, kamu turun dari mobil. Kamu menghampiriku.
“Let’s talk. Kita selesaikan dengan kepala dingin,” katamu pelan.
Aku berpikir sejenak. Sekilas aku bisa melihat temanku menggeleng. Sahabatku masih menggenggam jemariku. Aku mendesah pasrah. Sudah kuputuskan. Tanpa bicara aku naik ke mobilmu. Aku bisa melihat temanku menggeleng-gelengkan kepala tidak percaya. Kamupun membawaku pergi dari sana. Yeah, you’re right. We did need some quiet moment.
Kemudian tibalah mobil di tempat kita sering menghabiskan waktu berdua. Di sisi sungai yang jauh dari pusat kota. Aku menyiapkan diri untuk commotion selanjutnya. Walaupun tenagaku sudah terkuras karena menangis.
“I still want to end this.” Aku mulai berkata.
Kamu menarik napas. Tapi tidak berkata apa-apa.
“Please, understand,” sambungku. “Kamu jangan gila. Jangan hancurkan perkawinan kamu yang masih seumur jagung itu.”
Kamu menatapku. Dalam.
“Fine,” katamu. “But first tell me you don’t love me.”
Ah, itu gampang.
“I don’t,” kataku. “I consider the last three months as a fling.”
Dan sekonyong-konyong kamu tertawa. Lho?
“Kamu itu bukan pembohong yang baik. Aku tahu itu tadi tidak benar,” sanggahmu.
“Jangan kege-eran kamu,” balasku. “Tahu dari mana aku bohong. Ga ada bukti. Lagian – “
Shit! No! Don’t! Please, don’t kiss me!
Kamu memotong kalimatku dan langsung mencium bibirku. Kamu menekan bibirku kuat. Terus mendorong ke dalam. Dan aku tak kuasa menahan diri. Saat kamu membuka bibirmu, aku turut melakukannya. Lidah kita bertemu. Berpagut dan bercumbu. Lidahku menyapu rongga mulutmu. Akupun sadar aku menikmatinya.
Tidak.
Kutarik diriku. Kupalingkan wajahku. Dengan gusar kutatap pemandangan apapun yang ada di luar sana. Tidak …
Kamu kembali ke posisimu di belakang setir. Untuk beberapa saat tak satupun bersuara.
“Now tell me again you don’t love me,” katamu.
Aku memejamkan mata, merasakan sudutnya mulai menghangat. Tidak. Tidak.
“Take me home,” pintaku. “Please, just take me home.”
Sepanjang perjalanan pulang, aku menolak memalingkan wajahku dari jendela.
Setibanya di tempat kosku, kulihat mobil temanku masih ada di sana. Aku tidak peduli. Aku benar-benar tidak peduli semuanya. Aku hanya perlu masuk ke kamarku secepatnya.
Aku berlari menuju kamarku di lantai dua.
“Tunggu!” seru sahabatku.
Tidak. Tidak. Tidak.
Aku tiba di kamarku. Sesampainya di dalam, lepas semua pertahananku. Bebas. Aku menangis. Kencang. Hebat. Deras. Sederas cintaku yang mengalir untukmu. Aku cinta kamu …
to be continued…
The Not-So Silent Readers